Belajar Menulis dengan Daily Writing

Belajar Menulis dengan Daily Writing
Karangan karya Hammam (2017)

Matahari telah usai, gelap pun tiba. Ampoleng pun melewati puluhan nisan untuk kembali ke rumah. Burung wik-wik (wiwik) bersiul, seperti ada lahan untuk ditanam. Ampoleng gemetar melihat (ke) kanan-kiri: (nama-nama) yang tertempel di batu nisan. Setelah melihat (sebuah) nama, ia kaget. Ia melihat nama “Ampoleng” yang terukir rapi.

–oleh Hammam (dengan perubahan)

Tulisan di foto di atas dibuat oleh Hammam saat masih kelas 5 SD, kira-kira 2 tahun lalu. Itu dari kegiatan daily writing dengan sedikit tantangan: 1) Masukkan sebanyak mungkin unsur intrinsik cerita yang kamu bisa; 2) Narasikan itu semua tanpa menuliskannya secara gamblang.

Paragraf di atas sepertinya sederhana, tapi sebenarnya tidak, loh. Dalam satu paragraf itu, Hammam menyampaikan banyak sekali informasi. Penggunaan nama Ampoleng menunjukkan asal daerah tokoh, yaitu Ambon. Pemilihan burung wiwik, burung yang sering dijumpai di daerah agroforestri sekaligus burung yang dikaitkan dengan mitos kematian orang-orang muda, menunjukkan latar angker dalam paragraf ini. Hammam juga tidak menggunakan kata “malam” dan “kuburan” untuk menggambarkan latar waktu dan tempat.

Daily writing kali itu merupakan bentuk praktikum anak-anak saat mempelajari materi Bahasa Indonesia, yaitu unsur-unsur intrinsik dalam cerita. Sembari berlatih menulis, anak-anak dibarengi dengan program membaca novel, mengaji dan saling bertukar pendapat tentang isinya, menentukan mana yang merupakan unsur apa, dan banyak lagi.


Kira-kira begitulah. Kami selalu berusaha agar pelajaran bahasa (dan pelajaran lain) tidak sekedar untuk melahirkan angka, tapi untuk membentuk sebuah skill–sebuah kemampuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *