Pengalaman Orang Tua Siswa di Jungle Kids 2018

Pengalaman Orang Tua Siswa di Jungle Kids 2018

Gegara nyiapin Jungle Kids, hajatnya kelas 2 Komodo Sekolah Alam Cendekia, jadi flash back ke awal memilih sekolah ini buat Argi.

Mengapa kami memilih sekolah alam? Sebenarnya Abang Argi bukan tipe anak yang terlalu aktif juga, malah anteng. Saat survey, dia cenderung setuju-setuju saja untuk beberapa sekolah yang coba kami datangi, intinya terserah bapak dan ibu, tapi dia senang ngeliat Sekolah Alam Cendekia (SAC) karena ada panahan dan sering ada helikopter lewat, halaah. Hal pertama yang berkesan saat sampai di SAC adalah kolam ikan di tengah-tengah lingkungan sekolah. Seriously? Aman ga nih, buat anak-anak? Berbagai pikiran buruk muncul, khawatir ini itu. Sampai akhirnya ketemu Kepala Sekolahnya yang juga founder SAC dan mengonfirmasi tentang kolam ini. Beliau tertawa (baca : mentertawakan saya), “ Yaelah, Bu. Kalo ibu takut anak ibu tenggelam di laut, lautnya mau dipagerin?” Jleb!

IYA, saya orangtua yang seperti itu.

Gali-gali info lagi, lho, ga pake seragam, ya? Duuh gimana donk, seragam kan bagian dari identitas anak? “Lha bu, identitas anak itu bukan seragam, tapi karakternya mereka.” Double Jleb. “Portofolio sekolah kami adalah anak-anak itu sendiri, bukan bangunan megah atau banyaknya piala yang berjejer di ruang kantor, walaupun ga ada yang salah juga dengan bangunan megah dan jejeran piala, kita berharap suatu saat sekolah bisa punya bangunan memadai, tapi intinya sekolah bukan itu”.

IYA, saya orangtua yang seperti itu, yang berprinsip kenyamanan anak adalah yang utama.

Sejak Argi bayi, saya menderita semacam kekhawatiran yang berlebihan, sampai-sampai kami selalu menyediakan paling tidak ada dua orang yang menjaga Argi karena saya bekerja. Eh, pas punya adek malah ga segitunya. Argi selalu nyaman, hampir tidak pernah menangis karena sebelum menangis semua kebutuhannya dipenuhi. Selalu ada yang menemani bermain, intinya hampir tak pernah ditolak, secapek apapun ibu kalo Argi ngajak bermain, hayuu aja main sampe malem, semacam kompensasi karena ibu ninggalin kerja.

Saya pikir menjadi orang tua yang baik harus seperti itu.

“Bapak Ibu harus sering-sering minta maaf pada anak pertama,” bagian dari obrolan selanjutnya dengan Pak Kepala Sekolah. Triple jleb!

Jleb-jleb itu membuat kami berpikir kami butuh sekolah ini untuk belajar menjadi orangtua Argi, bukan sekedar menjaganya tetap hidup. Tidak mudah juga untuk Argi melewati hari-hari di sekolah. Tahun pertama kemandiriannya cepat terlatih, terutama karena merasa malu sepertinya. Memasuki tahun kedua ini makin menantang, semacam denial dan kangen bermanja-manja… Maafkan Ibu dan Bapak ya Abang, mari kita lewati ini bersama. Semoga Ibu bisa menjadi ibu yang ridho untuk Argi dan Alana.

Gimana sih rasanya menjadi OTS SAC?

Di sini kami belajar menjadi orangtua yang ridho. Ridho menerima rasa bersalah. Ridho menerima anak apa adanya.
Tapi yang pasti satu hal, RIWEUH!

Duuuh, riweuh deuh jadi orang tua siswa (OTS) sekolah alam. Kenapa? Karena hampir setiap minggu adaa aja tugas yang melibatkan orangtua, mulai dari yang sedikit riweuh macam menyediakan snack bersama, jualan mingguan, atau riweuh tingkat menengah macam market day, Indonesian Culture Festival, sampai nyiapin Jungle Kids untuk kelas 2 yang riweuhnya luar biasa, berasa bisulan sampai hari-H. OTS dan anak-anak benar-benar menjadi PIC bukan sekedar menyediakan anggaran, sekolah hanya fasilitator.

Jungle Kids ini menjadi bagian dari lesson plan kelas 2 SAC dalam rangka lebih mengenal hewan vertebrata, tahun ini dihadiri anak-anak SAC dan kurang lebih 235 anak dari sekolah lain. Ribet banget ga, sih? Bukankah harusnya untuk mengenal hewan cukup membawa anak-anak ke Taman Safari, tapi kok malah mendatangkan hewan dari Taman Safari ke sekolah, hihihi. Anti-mainstream banget, deh!

Tapi memang keriweuhannya selalu berbayar, hal-hal kecil seperti jualan di sekolah membuat Argi lebih mengenal dan menghargai uang, sekarang malah sedikit lebay, uangnya dipinjem 5 ribu, bakal ngeh banget. Pagi-pagi jumat ga pernah absen nagihin uang saku hasil mengerjakan tugas buang sampah dan mengunci gembok rumah. Ato saat ada keuntungan market day, melihat anak-anak hepi bisa membeli es krim dari hasil usaha mereka itu sesuatu banget. Bayaran lain dari keriweuhan ini adalah anak-anak mulai terbiasa berbagi peran dan belajar bertanggungjawab untuk perannya. Kalo udah dapet tugas, wuiih ga bisa tenang dia sebelum selesai, bikin emaknya tersindir, (duuh nulis ini juga distraksi dari nulis tesis sebenernya, hihihi). Buat OTS, di tengah kesibukan masing-masing mempersiapkan hajatan ini merupakan pembelajaran yang luar biasa. Mana sehari sebelum hari- H Bogor hujan deras dan halaman sekolah digenangi air 😁 Bekas balong gitu lhoo sekolahnya

Bogor, 23 November 2019, oleh Wira Fitria, OTS Argi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *